Selasa, 11 September 2012

macam macam tarekat...




A.  Tarekat Syattariyah
v Pendiri Tarekat Syattariyah dan masa hidupnya
Nama Tarekat Syattariyah sering dihubungkan dengan seorang ulama yang mempopulerkan tarekat ini di India, yakni Syâh Abd Allâh al-Syattârî (w. 890 H/1485 M).

v Penyebar di Nusantara dan masa hidupnya
Penyebar Tarekat Syattariyah di Nusantara adalah Abdurrauf al-Singkili (1024 – 1105 H/ 1615 – 1693 M), yang bisa jadi merupakan satu-satunya ulama yang paling otoritatif dalam menyebarkan tarekat ini di wilayah Melayu-Indonesia yang jelas telah menunjukkan posisinya sebagai ulama mumpuni yan dapat mensejajarkan dirinya dengan para ulama besar dari belahan dunia lain. Demikianlah, sejauh menyangkut peyebaran ajaran neo-sufisme melalui Tarekat Syattariyah di wilayah Melayu-Indonesia ini, as-Singkili merupakan figur utama, karena hampir semua silsilah Tarekat Syattariyah bermuara kepada dirinya.
v Daerah yang banyak pengikutnya
Sejak mulai berkembangnya pada abad XVII hingga kini, Tarekat Syattariyah telah tersebar ke berbagai pelosok di Sumatera Barat, mulai dari daerah Padang Pariaman dan Tanah Datar, menyusul kemudian daerah Agam, Solok, Sawah Lunto Sijunjung, Pasaman hingga Pesisir Selatan. Dengan demikian, Tarekat Syattariyah di Sumatera Barat telah memulai penyebarannya melalui jalur daerah pantai pesisir sampai ke darek atau luhak nan tigo, yaitu Luhak Tanah Datar, Luhak Agam, dan Luhak Lima Puluh Kota.
v Pokok-pokok ajaran
Dalam kitab al-Simt al-Majid al-Qusyasyi berisi aturan dan tata tertib menjadi anggota tarekat, serta juga berisi tuntunan tentang cara zikirnya. Menurutnya, gerbang pertama bagi seseorang untuk masuk ke dunia tarekat adalah Baiat dan Talqin. Di antara tata cara talqin adalah calon murid terlebih dahulu menginap di tempat tertentu yang ditunjuk oleh syaikhnya selama tiga malam dalam keadaan suci (berwudhu).
Setiap malamnya harus melakukan sholat sunnat sebanyak enam rakaat, dengan tiga kali salam. Pada rakaat pertama dari dua rakaat pertama, setelah surah al-Fatihah, membaca surah al-Qadr enam kali. Kemudian pada rakaat kedua, setelah membaca surah al-Fatihah, membaca surah al-Qadr dua kali. Pahala shalat tersebut dihadiahkan kepada Nabi Saw, seraya berharap mendapat pertolongan dari Allah Swt. Selanjutnya, pada rakaat pertama dari dua rakaat kedua, setelah surat al-Fatihah membaca surah al-Kafirun lima kali, dan pada rakaat kedua setelah membaca surah al-Fatihah membaca al-Kafirun tiga kali dan pahalanya dihadiahkan untuk arwah para nabi, keluarga, sahabat serta para pengikutnya.
Terakhir, pada rakaat pertama dari dua rakaat ketiga, setelah surah al-Fatihah membaca surah al-Ikhlas empat kali dan pada rakaat kedua, setelah al-Fatihah membaca surah al-Ikhlas dua kali. Kali ini pahalanya dihadiahkan untuk arwah guru-guru. 

B.       Tarekat Sammaniyah
v Pendiri Tarekat Sammaniyah dan masa hidupnya
Tarekat Sammaniyah didirikan oleh Muhammad ibn Abd al-Karîm al-Quraysyî al-Madanî al-Syafi’î, yang lebih dikenal dengan al-Sammân. Ia lahir pada tahun 1130 H/1718 M, di Madinah dari keluarga Quraisy.
v Penyebar di Nusantara dan masa hidupnya
Penyebar tarekat ini di Nusantara tidak bisa lepas dari peran Abdussamad al-Palimbani (1704-1789 M), yang mana beliau adalah murid al-Sammân yang paling berperan dalam penyebaran Sammaniyah di Nusantara. Beliau adalah ulama Indonesia yang pertama memperkenalkan ajaran gurunya ke dalam kitab-kitab berbahasa Melayu.
v Daerah yang banyak pengikutnya
Tarekat Sammaniyah adalah terekat yang paling besar pengikutnya dan tersebar di seluruh kotamadya/kabupaten di Sulawesi Selatan. Di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan, seperti Bone, Pare Pare, Luwu, Bulukumba, Soppeng, dan di Makassar, sekurang-kurangnya empat masjid tarekat ini tersebar di sana, khususnya di tempat suku Bugis dan Makassar berdomisili.
v Pokok-pokok ajaran
Ajaran Tarekat Sammaniyah mengacu pada buku al-Sammân, al-Nafahât al-Ilâhiyah. Buku ini memuat delapan bab, yaitu tobat, baiat, zikir, khalwat, penyakit hati, persaudaraan, adab kepada guru, wali, tawassul, wahdatul wûjud, Nur Muhammad, insan kamil dan penutup tentang nasihat ikhwân.
Zikir Sammaniyah adalah jahr (keras) dengan lafal nafi’ isbat, yaitu lâ ilâha illa Allâh. Dalam beberapa buku rujukan tarekat ini dijelaskan, bahwa lafal itu yang afdal sesuai dengan hadis, Afdal al-Dzikir lâ ilâha illa Allâh. Adapun dalil keutamaan zikir jahr (keras), yaitu riwayat Ibn Abbas bahwa pada masa Nabi Saw, zikir jahr dilaksanakan setelah jamaah selesai salat fardu. Manfaat zikir jahr, antara lain menampakkan syiar Islam, memberi berkah para pendengarnya, menghapus dosa, dan menumbuhkan iman. Zikir jahr bagaikan tukang bexi yang memukulkan palunya untuk menghilangkan karat yang melengket pada besi. Begitu pula orang yang berzikir jahr dapat menghilangkan dosa yang melekat dalam hati.

C.  Tarekat Khalwatiyah
v Pendiri Tarekat Khalwatiyah dan masa hidupnya
Tarekat Khalwatiyah diambil dari kata “khalwat”, yang artinya menyendiri untuk merenung. Khalwatiyah juga diambil dari nama pendirinya yaitu Syekh Muhammad Khalwati (w. 717 H), yang sering melakukan khlawat di tempat-tempat sepi.
v Penyebar di Nusantara dan masa hidupnya
Tarekat Khalwatiyah di Nusantara diperkenalkan oleh Syeikh Yusuf Taj al-Khalwati al-Makassari. Beliau lahir di kerajaan Gowa pada tahun 1626 M.
v Daerah yang banyak pengikutnya
Di Indonesia, ajaran tarekat ini berkembang luas di Sulawesi Selatan. Seperti halnya di beberapa tempat lainnya, ajaran Tarekat Khalwatiyah yang berkembang di Sulawesi Selatan terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Tarekat Khalwatiyah Yusuf dan Tarekat Khalwatiah Samman.
v Pokok-pokok ajaran
Ajaran-ajaran Tarekat Khlawatiyah, yaitu:
1.         Yaqza: kesadaran akan dirinya sebagai makhluk yang hina di hadapan Allah Swt
2.         Taubah: mohon ampun atas segala dosa
3.         Muhasabah: menghitung-hitung atau intropeksi diri
4.         Inabah: berhasrat kembali kepada Allah
5.         Tafakkur: merenung tentang kebesaran Allah
6.         I’tisam: selalu bertindak sebagai khalifah Allah di bumi
7.         Firar: lari dari kehidupan jahat dan keduniawian yang tidak berguna
8.         Riyadah: melatih diri dengan beramal sebanyak-banyaknya
9.         Tasyakur: selalu bersyukur kepada Allah dengan mengabdi dan memuji-Nya
10.     Sima’: mengonsentrasikan seluruh anggota tubuh dalam mengikuti perintah-perintah Allah terutama pendengaran.
Intinya, para murid dari Tarekat Khalwatiyah harus tawajjuh, yaitu murid menerima pelajaran-pelajaran dasar dari guru (Mursyid) seperti zikir-zikir tertentu setelah itu diadakan baiat dan talkin. Dan tahap awal sebelum pembantaian adalah seseorang harus mengadakan penyucian batin, sikap dan perilaku yang tidak baik.
Dalam Tarekat Khalwatiyah dikenal adanya sebuah amalan yang disebut Al-Asma’ As-Sab’ah (tujuh nama). Yakni tujuh macam dzikir atau tujuh tingkatan jiwa yang harus dibaca oleh setiap salik.
Dzikir pertama adalah La ilaaha illallah (pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah). Dzikir pada tingkatan jiwa pertama ini disebut an-Naf al-Ammarah (nafsu yang menuruh pada keburukan, amarah). Jiwa ini dianggap sebagai jiwa yang paling terkotor dan selalu menyuruh pemiliknya untuk melakukan perbuatan dosa dan maksiat atau buruk, seperti mencuri, bezina, membunuh, dan lain-lain.
Kedua, Allah (Allah). Pada tingkatan jiwa kedua ini disebut an-Nafs al-Lawwamah (jiwa yang menegur). Jiwa ini dianggap sebagai jiwa yang sudah bersih dan selalu menyuruh kebaikan-kebaikan pada pemiliknya dan menegurnya jika ada keinginan untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk.
Ketiga, Huwa (Dia). Dzikir pada tingkatan ketiga ini disebut an-Nafs al-Mulhamah (jiwa yang terilhami). Jiwa ini dianggap yang terbersih dan telah diilhami oleh Allah SWT, sehingga bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk.
Keempat, Haq (Maha Benar). Tingkatan jiwa ini disebut an-Nafs al-Muthmainnah (jiwa yang tenang). Jiwa ini selain bersih juga dianggap tenang dalam menghadapi segala problema hidup maupun guncangan jiwa lainnya.
Kelima, Hay (Maha Hidup). Disebut juga dzikir an-Nafs ar-Radliyah (jiwa yang ridla). Jiwa ini semakin bersih, tenang dan ridla (rela) terhadap apa yang menimpa pemiliknya, karena semua berasal dari pemberian Allah.
Keenam, Qayyum (Maha Jaga). Tingkatan jiwa ini disebut juga an-Nafs Mardliyah (jiwa yang diridlai). Selain jiwa ini semakin bersih, tenang, ridla terhadap semua pemberian Allah juga mendapatkan keridlaan-Nya.
Ketujuh, Qahhar (Maha Perkasa). Jiwa ini disebut juga an-Nafs al-Kamilah (jiwa yang sempurna). Dan inilah jiwa terakhir atau puncak jiwa yang paling sempurna dan akan terus mengalami kesempurnaan selama hidup dari pemiliknya.
Ketujuh tingkatan (dzikir) jiwa ini intinya didasarkan kepada ayat al-Qur’an. Tingkatan pertama didasarkan pada surat Yusuf ayat 53: “Sesunguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada keburukan”.
Tahap awal yang dilakukan seseorang calon murid menjelang pembaiatan adalah harus mengadakan penyucian batin, sikap dan perilaku yang tidak baik, seperti: hasad, riya’ dan ghibah. Setelah penyucian batin maka diisi dengan perilaku yang baik (husn al-zhan, husn al-khuluq, husn al-adab).
 
D.      Tarekat Naqsyabandiyah
v Pendiri Tarekat Naqsyabandiyyah dan masa hidupnya
Tarekat Naqsyabandiyyah didirikan oleh seorang pemuka tasawuf bernama lengkap Muhammad bin Muhammad Baha’ al-Din al-Uwaisi al-Bukhari Naqsabandi (717 H/1318 M – 791 H/1389 M).
v Penyebar di Nusantara dan masa hidupnya
Menurut Dr. Hj. Sri Mulyati, MA., dalam disertasinya menjelaskan bahwa Syaikh Yusuf Makassari (1626 – 1699 M) merupakan orang pertama yang memperkenalkan Tarekat Naqsyabandiyyah di Nusantara. Ia menerima ijazah dari Syaikh Muhammad Abd al-Baqi di Yaman kemudian mempelajari tarekat ketika berada di Madinah di bawah bimbingan Syaikh Ibrahim al-Kurani. Mungkin saja Syaikh Yusuf bukan orang pertama yang menganut tarekat Naqsyabandiyyah di Indonesia, namun ia adalah orang pertama yang menulis tarekat ini, sehingga kemudian ia dianggap sebagai orang pertama yang memperkenalkan Tarekat Naqsyabandiyyah di Indonesia.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

trima kasih atas coment nya